Lewati ke konten

Merawat Cobek Batu dan Ulekan Baru sebelum Dipakai

4 menit baca

Cobek batu baru perlu dibersihkan dari serbuk batu sisa pahatan sebelum dipakai untuk bumbu. Caranya: sikat dengan air, lalu ulek bahan kering yang murah sampai serbuk yang lepas ikut terbawa, bilas, dan jemur sampai kering betul. Sesudah itu cobek cukup dicuci dengan sabun dan sikat setiap habis dipakai, lalu dikeringkan sebelum disimpan.

Kenapa Cobek Baru Berpasir

Cobek batu dibuat dengan dipahat, dan permukaan pahatan meninggalkan butir-butir lepas. Di Muntilan, Kabupaten Magelang, kerajinan ini memakai batu andesit dari lereng Gunung Merapi. Berita Pemerintah Kabupaten Magelang tentang pahat batu Muntilan[1] menyebut cobek dan munthu, sebutan setempat untuk ulekan, dipajang bersama patung dan relief di sepanjang jalan dari Kecamatan Salam sampai Muntilan.

Andesit adalah batuan gunung api, dan permukaan pahatannya kasar serta penuh rongga kecil. Kekasaran itu yang membuat cobek batu bisa menggiling cabai dan bawang, tetapi juga membuat cobek baru terasa kasar dan melepaskan serbuk. Serbuk itu terasa berpasir di gigi kalau ikut masuk ke sambal. Pada cobek yang baru dibeli, gosok permukaannya dengan ujung jari: kalau jari menghitam atau terasa ada butiran, cobek belum siap.

Membersihkan Cobek Baru

  1. Sikat cobek dan ulekan dengan sikat kawat halus atau sikat ijuk di bawah air mengalir. Jangan direndam semalam.
  2. Ulek segenggam beras mentah atau garam kasar di cobek yang masih basah sampai menjadi bubuk. Kebiasaan ini dipakai untuk mengangkat serbuk batu yang masih lepas.
  3. Buang bubuknya. Kalau warnanya keabu-abuan, ulangi sampai bubuk berikutnya tetap putih.
  4. Bilas, sikat lagi, lalu jemur di tempat berangin sampai kering, termasuk bagian bawahnya.

Sebagian orang lalu mengulek bawang putih, cabai, dan sedikit minyak sebagai bumbu pertama yang dibuang. Tujuannya menutup bau batu. Langkah ini tidak wajib. Beda tekstur bumbu hasil cobek dan mesin dibahas lewat ulekan batu dibanding pisau blender.

Sisa Bumbu Bisa Tinggal di Pori Batu

Rongga kecil di permukaan batu bisa menyimpan sisa makanan yang tidak terlihat. Penelitian butir pati pada alat batu giling di Scientific Reports[2] berhasil mengambil butir pati purba dari permukaan batu penggiling yang dipakai sekitar 40.000 tahun lalu di stepa Pontik. Cobek dapur tentu tidak disimpan ribuan tahun, tetapi temuan itu menunjukkan bahwa sisa bahan bisa terselip di permukaan batu dan tidak hilang hanya dengan dibilas.

Sisa Bawang Putih, Cabai Rawit, dan minyak Kemiri yang tertinggal di pori, ditambah cobek yang disimpan lembap, adalah tempat yang cocok bagi jamur. Tanda awalnya bintik hitam atau hijau di dasar cekungan dan bau apak saat cobek dicium.

Perawatan Sehari-Hari

Batu tidak diberi aturan khusus dalam panduan keamanan pangan yang ditemukan, tetapi aturan untuk talenan bisa dipakai karena masalahnya sama: permukaan yang menyimpan sisa makanan. Panduan kebersihan dapur dari University of Arizona[3] meminta talenan dicuci dengan air panas bersabun dan sikat setiap habis dipakai, dibilas, lalu dikeringkan di udara atau dilap dengan tisu dapur. Panduan yang sama menyarankan spons diganti setiap dua minggu.

  • Cuci segera setelah dipakai, terutama sesudah mengulek terasi atau Kunyit yang meninggalkan bau dan warna.
  • Pakai sikat, bukan hanya spons, supaya sisa bumbu di cekungan terangkat.
  • Keringkan dengan posisi cekungan menghadap ke samping atau ke bawah, jangan ditumpuk saat masih basah.
  • Cobek yang berbau apak atau berbintik jamur disikat dengan air panas dan dijemur di bawah matahari sebelum dipakai lagi. Kalau bintiknya kembali, cobek sebaiknya diganti.

Noda kuning dari kunyit sering tertinggal di batu yang pucat. Cara mengangkatnya mirip dengan noda kunyit pada perkakas dapur lain. Cobek yang bersih dan kering juga membuat bumbu halus lebih cepat matang tanpa bau mentah saat ditumis, karena tidak ada air sisa cucian yang ikut masuk ke wajan.

Rujukan

Sumber untuk asal batu cobek Muntilan, sisa bahan pada alat batu giling, dan cara membersihkan permukaan dapur.

  1. ↑ Seni Kerajinan Pahat Batu Jadi Ikon Wisata Kabupaten Magelang. PPID Kabupaten Magelang, 2024
  2. ↑ Morpho-chemical characterization of individual ancient starches retrieved on ground stone tools from Palaeolithic sites in the Pontic steppe. Scientific Reports, 2023
  3. ↑ Kitchen Sanitation Issues. University of Arizona Cooperative Extension

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.